Tak mudah bagi seorang ibu memilih ikut bekerja. Mungkin jika masih single, bekerja malah menjadi ajang gali potensi. Kita bisa mengatur waktu sesuka hati. Mau berangkat pagi-pagi, pulang malam, lembur tak menjadi soal. Tanpa perlu izin suami, tanpa ada
perlu tanggungan mengurus rumah tangga dan tanggung jawab mengasuh anak. Asal bisa jaga diri dan pergaulan, bekerja sih oke-oke saja. Pulang kantor selalu di atas jam 7 malam (sembari nunggu 3 in 1 kelar)..sampe kos jam 8-an..mandi..nonton TV..tidur (kenapa Kos? Krn klo di rumah ortu sendiri..pasti banyak kegiatan yg dilakukan bersama beda dgn anak perantauan).
Namun segalanya bisa berubah kala menikah. Di samping harus beraktivitas kerja, seorang ibu juga kadang dituntut kewajibannya yakni mengatur urusan rumah tangga, melayani suami dan mengasuh anak. Kenapa saya tulis kadang? Karena ada juga suami yang baik hati yang mengerti bahwa istri tak harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga seluruhnya dan menuntut ini itu layaknya istri ideal menurut versinya. Bila dulu semasa single waktu pulang kerja bisa langsung istirahat, kalau sudah menikah tak bisa seperti itu lagi. Sepulang kerja dari luar rumah, pekerjaan rumah tangga sudah menanti ibu. Dari mulai mencuci baju, membersihkan rumah, mengasuh anak, memasak, mencuci, belanja keperluan rumah tangga dsb.
Perasaan dilematis seorang ibu akan bertambah saat anaknya masih berusia balita yang membutuhkan pengasuhan ekstra dan air susu ibu (ASI). Idealisme memenuhi target ASI ekslusif dengan menjalankan pekerjaan secara sempurna pun berbenturan. ASI adalah hak anak. Menyempurnakan tugas pekerjaan pun adalah suatu kewajiban. Meski ada alat bantu pemeras ASI, Ibu terpaksa meluangkan ditengah-tengah aktivitas pekerjaan untuk memeras. Dua-duanya menjadi tidak optimal. Apalagi saat tingkat stress di kantor tinggi..dapat mempengaruhi jumlah ASI yang dapat diperas.
Bekerja memang bisa membantu pendapatan keluarga, namun ibu juga malah mengeluarkan banyak pengeluaran sebagai kompensasi ibu bekerja di luar rumah. Untuk membantu aktivitas rumah tangga, ibu membeli berbagai peralatan elektronik seperti kulkas, mesin cuci, dan sebagainya. Jika tidak ada mertua atau orangtua yang membantu pengasuh anak, ibu pun memerlukan sosok pengganti untuk membantu mengasuh anak. Keluarlah biaya untuk menggaji pengasuh dan PRT untuk memperlancar pekerjaan di rumah. Perempuan bekerja pun menghadapi tuntutan penampilan dan performa yang good looking. Walhasil, keluar lagi pengeluaran uang untuk menjaga penampilan dan memudahkan aktivitas kerja seperti membeli baju, tas, sepatu, notebook dan aksesoris lain.
Beruntung yang bisa menyerahkan semua tugas rumah ke PRT dan pengasuhan anak ke baby sitter atau lainnya. Yang seringkali sy temui..para ibu tetap berusaha meng-handle semuanya wlpn sdh mempunyai baby sitter dan atau PRT. Pagi..bangun jam 4, masak makanan anak u/ seharian..masak sarapan u/ suami..stlh itu masih berusaha menyiapkan anaknya ke sekolah..mulai dari mandi-sarapan-antar sekolah. Alhasil wlpn bangun seblm subuh tapi sampe kantor tetap aja yg paling siang..beruntung dapat mengandalkan KRL sebagai transportasi ke kantor (lumayan menghemat waktu). Maghrib sampai rumah..agak nyantai sedikit..terkadang menyiapkan bahan2 makanan yg akan dimasak ke-esokkan harinya (untuk menghemat waktu di paginya). Anak tidur..sembari menemani..sembari tidur betulan. Gak ada waktu untuk nonton TV atau hiburan lainnya..kecuali kalau gak ketiduran..
Andaikan dapat PRT atau baby sitter ataupun assisten yang cocok, pintar, dapat dihandalkan dalam mengurus anak dan rumah..sangatlah meringankan tugas ibu di rumah. Tetapi semuanya tetap saja tidak sempurna. Dan hal itu tidak bisa menimpakan kesalahan kepada para PRT/baby sitter/assisten. Karena kesalahan mereka atau ketidaksempurnaan mereka adalah resiko yang harus diambil ibu yang bekerja. Kenapa si Ibu tidak bisa mengerjakannya sendiri segala sesuatunya untuk mengurus anak dan rumah..
Belum lagi, seadainya terjadi konflik di tempat kerja atau rumah tangga, atau dua-duanya. Tak terbayang bagaimana penatnya. Di tempat kerja, perempuan mendapat tekanan untuk profesional dalam bekerja. Seperti pekerja pria, perempuan dituntut memberikan terbaik di tempat kerja. Di rumah perempuan juga diharapkan melakukan terbaik. Bersyukurlah jika punya atasan kerja atau pun suami yang mengerti kondisi kita.
Bersyukurlah mempunyai suami yang mau empati dan bekerjasama meringankan tugas-tugas kita. Kalau tidak, wah rasanya beban psikologis kian menumpuk. Penat nian. Semua ini mungkin tidak harus terjadi jika seorang perempuan melakukan aktivitas rumah tangga saja. Pilihan menggeluti aktivitas ibu rumah tangga saja sudah menyita tenaga, apalagi ditambah aktivitas bekerja. Lebih-lebih lagi, sungguh dibutuhkan stamina tubuh dan mental kuat. Sayangnya juga di era kapitalis ini, perempuan berprofesi ibu rumah tanggai itu sering tidak dianggap, mempunyai posisi tawar lemah yang sangat mudah ditekan.
Dari sinilah, saya merenungkan alangkah indahnya Islam membatasi aktivitas kewajiban utama perempuan ibu rumah tangga dan bekerja bagi perempuan hukumnya sekedar mubah (boleh). Islam sangat mengerti betul kekuatan fisik dan psikologi perempuan. Sayangnya di era kapitalisme ini, semua serba mahal. Untuk mendidik anak secara Islami pun tak mudah dan murah. Peluang lapangan kerja pun terbatas. Perempuan terkadang dituntut untuk bekerja.
Di era sekuler kapitalis liberal sekarang ini jika istri tidak ikut bekerja, seringkali terjadi persoalan kesulitan ekonomi. Hal ini karena seorang suami musti sendirian menanggung biaya pendidikan, kesehatan, pelayanan publik yang membutuhkan modal mahal, tunjangan sosial dan sebagainya yang seharusnya ditanggung negara.
Paling ideal sepertinya para ibu tidak bekerja kantoran..cukuplah di rumah saja tetapi tetap disibukkan dengan kegiatan lainnya yang bisa menambah penghasilan. Misal berdagang atau bisnis lainnya.. Insya Allah.
Oktober 11, 2010 at 9:24 am
Alhamdulillah……..
terimasih saya jadi mantab untuk resign……
Oktober 11, 2010 at 4:24 pm
Alhamdulillah. Doakan saya segera menyusul ya.. Ameen
Oktober 18, 2010 at 1:37 am
Alhamdulillah saya sudah mendapatkan solusi ibu bekerja, memang berat kl kita harus menghadapi semua itu sendiri, kenapa para ibu2 tidak mencari penghasilan tambahan yang bisa di lakukan di rumah saja!
saya sudah mencoba dan alhamdulillah sekarang saya bisa memantau perkembangan anak dan bisa membantu suami saya tanpa menggagu kerja sy….!!
November 4, 2010 at 1:36 pm
Suami memiliki kewajiban untuk menafkahi keluarganya. Dan Istri memiliki kewajiban untuk mengurus rumah tangga (mengasuh dan mendidik anak, melayani suami dll). Kalau hasil kerja suami gak cukup ? sesuaikan saja gaya hidup dengan uang yang ada, Insya Allah kalau semua dijalani dengan iklas, hidup ini akan tetap indah…..
Februari 21, 2011 at 4:42 pm
saat ini saya sedang menulis skripsi mengenai wanita utama…mungkin penulis bisa memberikan sumber2 mengenai wanita karir dan wanita rumah tangga sesuai dengan artikel yang ditulis..makacih
Februari 22, 2011 at 8:37 am
Dengan senang hati..
Silakan japri sj ke email sy di wi2k_dong@yahoo.com.