Kematian Adjie Massaid bbrp pekan yang lalu..mengingatkan kita bahwa mati adalah milik semua orang..tidak tua..tidak muda..tidak kaya..tidak miskin..tidak ganteng/cantik..dll.

Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik. Apakah kita tidak menyadari bahwa hari-hari yang dilewati justru semakin mendekatkan kita kepada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain? Tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, mereka semua akan mati, tiap orang. Saat ini, kita tidak pernah menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia. Mereka yang saat ini masih hidup dan mereka yang akan hidup juga akan menghadapi kematian pada hari yang telah ditentukan. Walaupun demikian, masyarakat pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja. Coba renungkan seorang bayi yang baru saja membuka matanya di dunia ini dengan seseorang yang sedang mengalami sakaratul maut. Keduanya sama sekali tidak berkuasa terhadap kelahiran dan kematian mereka. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya. Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati. Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang [dengan kematian]; mereka berpikir tentang: di mana mereka akan kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan. Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya! Ketika kematian dialami oleh seorang manusia, semua “kenyataan” dalam hidup tiba-tiba lenyap. Tidak ada lagi kenangan akan “hari-hari indah” di dunia ini. Renungkanlah segala sesuatu yang anda dapat lakukan saat ini: anda dapat mengedipkan mata anda, menggerakkan badan anda, berbicara, tertawa; semua ini merupakan fungsi tubuh anda. Sekarang renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh anda setelah anda mati nanti.

Dimulai saat menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, kita tidak ada apa-apanya lagi selain “seonggok daging”. Tubuh kita yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, kita akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya. Dengan dibungkus kain kafan, jenazah anda akan di bawa ke kuburan dalam sebuah peti mati. Sesudah jenazah dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi anda. Ini adalah kesudahan cerita. Mulai saat ini, kita hanyalah seseorang yang namanya terukir pada batu nisan di kuburan. Selama bulan-bulan atau tahun-tahun pertama, kuburan sering dikunjungi. Seiring dengan berlalunya waktu, hanya sedikit orang yang datang. Beberapa tahun kemudian, tidak seorang pun yang datang mengunjungi. Sementara itu, keluarga dekat kita akan mengalami kehidupan yang berbeda yang disebabkan oleh kematian anda. Di rumah, ruang dan tempat tidur kita akan kosong. Setelah pemakaman, sebagian barang-barang milik kita akan disimpan di rumah: baju, sepatu, dan lain-lain yang dulu menjadi milik kita akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Berkas-berkas di kantor akan dibuang atau diarsipkan. Selama tahun-tahun pertama, beberapa orang masih berkabung akan kepergian. Namun, waktu akan mempengaruhi ingatan-ingatan mereka terhadap masa lalu. Empat atau lima dasawarsa kemudian, hanya sedikit orang saja yang masih mengenang anda. Tak lama lagi, generasi baru muncul dan tidak seorang pun dari generasi anda yang masih hidup di muka bumi ini. Apakah kita diingat orang atau tidak, hal tersebut tidak ada gunanya bagi kita. Sementara semua hal ini terjadi di dunia, jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah anda dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut; hal tersebut terjadi dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas. Seiring dengan terjadinya perubahan di luar tubuh, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga membusuk. Sementara itu, pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut, ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya. Kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai berai. Otak juga akan membusuk dan tampak seperti tanah liat. Semua proses ini berlangsung sehingga seluruh tubuh menjadi kerangka. Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat; semuanya tidak akan mungkin terjadi. Singkatnya, “onggokkan daging dan tulang” yang tadinya dapat dikenali; mengalami akhir yang menjijikkan. Di lain pihak, kita – atau lebih tepatnya, jiwa kita – akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas anda berakhir. Sedangkan sisa dari anda – tubuh anda – akan menjadi bagian dari tanah. Ya, tetapi apa alasan semua hal ini terjadi? Seandainya Allah ingin, tubuh ini dapat saja tidak membusuk seperti kejadian di atas. Tetapi hal ini justru menyimpan suatu pesan tersembunyi yang sangat penting Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia; seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang “dibungkus” dalam tubuh. Dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya – yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini -. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi. Walaupun setelah melihat kenyataan-kenyataan ini, ternyata mental manusia cenderung untuk tidak peduli terhadap hal-hal yang tidak disukai atau diingininya. Bahkan ia cenderung untuk menafikan eksistensi sesuatu yang ia hindari pertemuannya. Kecenderungan seperti ini tampak terlihat jelas sekali ketika membicarakan kematian. Hanya pemakaman atau kematian tiba-tiba keluarga dekat sajalah yang dapat mengingatkannya [akan kematian]. Kebanyakan orang melihat kematian itu jauh dari diri mereka. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan merupakan orang lain; dan apa yang mereka [yang mati] alami tidak akan menimpa diri mereka! Semua orang berpikiran, belum saatnya mati dan mereka selalu berpikir selalu masih ada hari esok untuk hidup. Bahkan mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi anda membaca artikel ini, anda berharap untuk tidak meninggal setelah anda menyelesaikan membacanya atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin anda merasa bahwa saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya. Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja.

Tak mudah bagi seorang ibu memilih ikut bekerja. Mungkin jika masih single, bekerja malah menjadi ajang gali potensi. Kita bisa mengatur waktu sesuka hati. Mau berangkat pagi-pagi, pulang malam, lembur tak menjadi soal. Tanpa perlu izin suami, tanpa ada
perlu tanggungan mengurus rumah tangga dan tanggung jawab mengasuh anak. Asal bisa jaga diri dan pergaulan, bekerja sih oke-oke saja. Pulang kantor selalu di atas jam 7 malam (sembari nunggu 3 in 1 kelar)..sampe kos jam 8-an..mandi..nonton TV..tidur (kenapa Kos? Krn klo di rumah ortu sendiri..pasti banyak kegiatan yg dilakukan bersama beda dgn anak perantauan).

Namun segalanya bisa berubah kala menikah. Di samping harus beraktivitas kerja, seorang ibu juga kadang dituntut kewajibannya yakni mengatur urusan rumah tangga, melayani suami dan mengasuh anak. Kenapa saya tulis kadang? Karena ada juga suami yang baik hati yang mengerti bahwa istri tak harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga seluruhnya dan menuntut ini itu layaknya istri ideal menurut versinya. Bila dulu semasa single waktu pulang kerja bisa langsung istirahat, kalau sudah menikah tak bisa seperti itu lagi. Sepulang kerja dari luar rumah, pekerjaan rumah tangga sudah menanti ibu. Dari mulai mencuci baju, membersihkan rumah, mengasuh anak, memasak, mencuci, belanja keperluan rumah tangga dsb.

Perasaan dilematis seorang ibu akan bertambah saat anaknya masih berusia balita yang membutuhkan pengasuhan ekstra dan air susu ibu (ASI). Idealisme memenuhi target ASI ekslusif dengan menjalankan pekerjaan secara sempurna pun berbenturan. ASI adalah hak anak. Menyempurnakan tugas pekerjaan pun adalah suatu kewajiban. Meski ada alat bantu pemeras ASI, Ibu terpaksa meluangkan ditengah-tengah aktivitas pekerjaan untuk memeras. Dua-duanya menjadi tidak optimal. Apalagi saat tingkat stress di kantor tinggi..dapat mempengaruhi jumlah ASI yang dapat diperas.

Bekerja memang bisa membantu pendapatan keluarga, namun ibu juga malah mengeluarkan banyak pengeluaran sebagai kompensasi ibu bekerja di luar rumah. Untuk membantu aktivitas rumah tangga, ibu membeli berbagai peralatan elektronik seperti kulkas, mesin cuci, dan sebagainya. Jika tidak ada mertua atau orangtua yang membantu pengasuh anak, ibu pun memerlukan sosok pengganti untuk membantu mengasuh anak. Keluarlah biaya untuk menggaji pengasuh dan PRT untuk memperlancar pekerjaan di rumah. Perempuan bekerja pun menghadapi tuntutan penampilan dan performa yang good looking. Walhasil, keluar lagi pengeluaran uang untuk menjaga penampilan dan memudahkan aktivitas kerja seperti membeli baju, tas, sepatu, notebook dan aksesoris lain.

Beruntung yang bisa menyerahkan semua tugas rumah ke PRT dan pengasuhan anak ke baby sitter atau lainnya. Yang seringkali sy temui..para ibu tetap berusaha meng-handle semuanya wlpn sdh mempunyai baby sitter dan atau PRT. Pagi..bangun jam 4, masak makanan anak u/ seharian..masak sarapan u/ suami..stlh itu masih berusaha menyiapkan anaknya ke sekolah..mulai dari mandi-sarapan-antar sekolah. Alhasil wlpn bangun seblm subuh tapi sampe kantor tetap aja yg paling siang..beruntung dapat mengandalkan KRL sebagai transportasi ke kantor (lumayan menghemat waktu). Maghrib sampai rumah..agak nyantai sedikit..terkadang menyiapkan bahan2 makanan yg akan dimasak ke-esokkan harinya (untuk menghemat waktu di paginya). Anak tidur..sembari menemani..sembari tidur betulan. Gak ada waktu untuk nonton TV atau hiburan lainnya..kecuali kalau gak ketiduran..

Andaikan dapat PRT atau baby sitter ataupun assisten yang cocok, pintar, dapat dihandalkan dalam mengurus anak dan rumah..sangatlah meringankan tugas ibu di rumah. Tetapi semuanya tetap saja tidak sempurna. Dan hal itu tidak bisa menimpakan kesalahan kepada para PRT/baby sitter/assisten. Karena kesalahan mereka atau ketidaksempurnaan mereka adalah resiko yang harus diambil ibu yang bekerja. Kenapa si Ibu tidak bisa mengerjakannya sendiri segala sesuatunya untuk mengurus anak dan rumah..

Belum lagi, seadainya terjadi konflik di tempat kerja atau rumah tangga, atau dua-duanya. Tak terbayang bagaimana penatnya. Di tempat kerja, perempuan mendapat tekanan untuk profesional dalam bekerja. Seperti pekerja pria, perempuan dituntut memberikan terbaik di tempat kerja. Di rumah perempuan juga diharapkan melakukan terbaik. Bersyukurlah jika punya atasan kerja atau pun suami yang mengerti kondisi kita.

Bersyukurlah mempunyai suami yang mau empati dan bekerjasama meringankan tugas-tugas kita. Kalau tidak, wah rasanya beban psikologis kian menumpuk. Penat nian. Semua ini mungkin tidak harus terjadi jika seorang perempuan melakukan aktivitas rumah tangga saja. Pilihan menggeluti aktivitas ibu rumah tangga saja sudah menyita tenaga, apalagi ditambah aktivitas bekerja. Lebih-lebih lagi, sungguh dibutuhkan stamina tubuh dan mental kuat. Sayangnya juga di era kapitalis ini, perempuan berprofesi ibu rumah tanggai itu sering tidak dianggap, mempunyai posisi tawar lemah yang sangat mudah ditekan.

Dari sinilah, saya merenungkan alangkah indahnya Islam membatasi aktivitas kewajiban utama perempuan ibu rumah tangga dan bekerja bagi perempuan hukumnya sekedar mubah (boleh). Islam sangat mengerti betul kekuatan fisik dan psikologi perempuan. Sayangnya di era kapitalisme ini, semua serba mahal. Untuk mendidik anak secara Islami pun tak mudah dan murah. Peluang lapangan kerja pun terbatas. Perempuan terkadang dituntut untuk bekerja.

Di era sekuler kapitalis liberal sekarang ini jika istri tidak ikut bekerja, seringkali terjadi persoalan kesulitan ekonomi. Hal ini karena seorang suami musti sendirian menanggung biaya pendidikan, kesehatan, pelayanan publik yang membutuhkan modal mahal, tunjangan sosial dan sebagainya yang seharusnya ditanggung negara.

Paling ideal sepertinya para ibu tidak bekerja kantoran..cukuplah di rumah saja tetapi tetap disibukkan dengan kegiatan lainnya yang bisa menambah penghasilan. Misal berdagang atau bisnis lainnya.. Insya Allah.

Siapa istri yang tak bangga suaminya naik pangkat, serta tiba-tiba sang istri menjadi mahir berorganisasi ketika menduduki jabatan sebagai ketua darma wanita, ketua persatuan para istri, ketua ini dan ketua itu?

Semua orang memandang dengan hormat, tanpa mereka perlu tahu bagimana latar belakang pendidikan dan pengalaman berorganisasi sang istri itu sendiri, bagaimana kondisi kepandaian sang istri pejabat yang dalam hal ini tiba-tiba semua perkataannya dituruti, dipatuhi dan semua idenya menjadi sangat brilian. Selain itu bahkan menjadi suatu kebijakan tak tertulis yang diikuti oleh semua staf wanita dibawahnya maupun staf sang suami.

Terkadang sang suami nampak kebingungan ketika ada suatu kebijakan yang tidak diucapkannya,  namun telah dilakukan oleh staf-stafnya, seperti pemakaian baju batik pada hari Jumat. Ketika dikonfirmasi, ternyata sang istri telah memberikan peraturan baru, yang dipatuhi oleh seluruh staf baik lama maupun baru dengan gembira. Namun hal ini membuat anggaran belanja negara akhirnya menjadi bertambah untuk sesuatu yang dirasa perlu tetapi tidak penting.

Sedikit demi sedikit, anggaran menjadi membukit dan ketika sang suami menerima kunjungan dari pengusaha manapun, maka sang istri dengan gembira menikmati fasilitas yang disediakan. Asyiknya terkadang tempatnya berbeda-beda. Dan dengan alasan menemani bapak, maka istri-istri ikut acara apapun. Hal inilah yang mengakibatkan anggaran membengkak. Sang suami yang harus rapat serta tugas dinas, namun si istri yang mendapatkan fasilitas jalan-jalan dan cuci mata, juga membeli ini dan itu yang berjumlah sangat banyak, yang sebetulnya tidak perlu. Tentu saja, dengan alasan untuk membantu penghargaan kepada rakyat daerah yang telah membuat hasil karyanya.

Amplop yang diterima oleh sang suami atas anggapan sebuah kerja keras untuk negarapun terkadang dihitung dengan membaca ‘bismillah’, disisihkan sedikit untuk zakat, sedekah pesantren-pesantren dan sisanya disimpan baik baik dalam rekening yang berbeda beda. Semakin tahun, semakin pandai sang istri menghitung uang dan menglokasikannya. Akhirnya, semakin banyak kenalannya di bank-bank, baik dalam maupun luar negeri.

Dengan bertambahnya usia sang suami, jabatan dan kekuasaan bertambah pula dengan pendapatan siluman yang membuat sang istri mendapat pujian dari sana sini sebagai istri yang berhasil mendukung karier suami, plus istri dermawan yang rajin membagi-bagi uang kepada sanak saudara dikampung, fakir miskin dan beberapa pesantren terkenal di negeri ini.

Untuk beramal ataukah sebagai pencuci dosa?

Dan ketenangan sebagai istri pejabat pun semakin meningkat dengan semakin bertambahnya usia, karena bayangan uang yang tidak akan habis 7 turunan serta pernikahan anak-anaknya yang dibiayai dengan sangat megah, serta cukupnya uang untuk bekal anak-anaknya membuka perusahaan, membuat sang istri bersiap-siap menghadapi masa tuanya dengan rajin mengikuti pengajian.

Tak lama kemudian, sudah ada di koran-koran, sosok sang istri dengan jilbab dan baju muslim yang nampak anggun membalut tubuh, bibir tipis yang kemerahan sesekali mengeluarkan irama dzikir serta sang suami dengan baju koko dan kopiah selalu menjadi sosok yang dihormati karena tidak pernah tinggal sholat lima waktu dan juga mudah didekati untuk memberikan sedekah bagi staf dan keluarganya.

Dan.., bom apa yang paling hebat yang menimpa sebuah keluarga, bila akhirnya sebelum ajal menjemput, sang istri hanya menjumpai sms dari suaminya yang berbunyi, ”Mah, tolong siapkan baju dan makanan yang ku sukai karena malam ini aku mungkin menginap dikantor polisi atas dakwaan dari orang yang tidak kebagian, atas projek senilai 3 trilun ketika anak pertama kita masih kuliah dan kita masih tinggal di Kupang.”

Dengan cepatnya, surat kabar keesokan harinya menampar wajah mereka sekeluarga, lirikan sinis supir dan asisten di kantor suaminya serta satpam dirumah, membuat istri pejabat tidak lagi dapat mendengak dengan anggun. Gelar baru sudah tertempel didahinya, yaitu “Istri sang koruptor”

“Mah…, doakan papa yaa…” demikian kata suaminya dari balik tirai penjara berlinang airmata.

“Ya, pa… mama akan selalu setia pada papa, bukankah uang papa, mama makan juga…? tenang ya pa…, uang kita masih banyak untuk membeli pengacara terkenal di negeri ini.”

Astagfirullah, mereka lupa, pengadilan di dunia dapat dibeli, namun pengadilan di akhirat, siapa yang bisa beli…?

Perlukah istri koruptor ikut dipenjara? atau bebas diluar dengan mencairkan rekening yang sudah ada untuk membeli pengacara?

Wahai para istri…jangan terlalu membebani suami ya..  supaya suami juga tetap di jalurnya. Ameen

Ingat jaman pacaran dulu..berapa kali dalam sehari anda memberikan kata-kata sayang/indah/manis ke pasangan anda..? entah hanya lewat sms ataupun diucapkan langsung melalui telepon bahkan saat bertatap muka langsung. Atau…saat baru awal-awal menikah. Pasti masih sering jugakan..anda mengucapkan kata-kata tadi ke pasangan anda.

Pernahkah kita memikirkan kata-kata yang hilang dalam hidup kita? Hilang bukan berarti kita tidak ingat terhadap kata-kata itu lagi, akan tetapi hilang karena kita sulit mengucapkan kata-kata itu kembali saat ini. Kata yang dibungkus dengan rasa cinta. Yang terkadang kata itu hilang ditelan seiring jalannya waktu dan usia.

Dalam kebiasaan orang Jepang ketika orang sedang kasmaran atau baru saja menikah..berikut adalah daftar kata-kata yang selalu muncul, dan sering diucapkan. Sukidayo (aku suka kamu), Aisiteiru (Aku cinta kamu), Kansyasiteruyo (Terima kasih sekali), Arigatou (Terima kasih). Kata-kata ini sungguh enak diucapkan dan didengarkan, bagi orang yang sedang kasmaran, ditelan indahnya kisah cinta. Ketika cinta menderu dalam dada, semua terasa indah. Setiap saat ingin saja hati mengucapkan kata-kata ini. Akibatnya kata-kata ini sulit dilukiskan dengan kata-kata. Bahkan seorang penulis menulis panjang dalam bukunya, hanya untuk menerjemahkan makna dari kata cinta ini. Inilah dahsyatnya rasa cinta. Rasa cinta menjadikan dua atau tiga kata berubah menjadi mempunyai makna yang indah dan luar biasa dalam hidup manusia. Akan tetapi dengan berjalannya waktu..bertambahnya kesibukan dan kepentingan lainnya, kata-kata ini menjadi barang yang sulit untuk diucapkan kembali. Lidah terasa kelu, kaku dan tidak mampu mengucapkan kata-kata sederhana ini. Kalau pun terucap di bibir, akhirnya hanya menjadi susunan kata-kata yang tidak bermakna, yang tidak dapat menggambarkan perasaan hati. Kumpulan kata-kata yang tidak dapat mengubah isi hati yang paling dalam. Apakah mereka berjauhan? Dan tidak saling bertemu? Bahkan terkadang sangat dekat sekali.

Teringat nasehat seorang kawan..saat itu dia sedang dilanda masalah keluarga yang berujung pada perceraian (Naudzubillahmindalik)..dia hanya memberikan satu nasehat ”saya yang salah..saya telah melalaikan hal-hal kecil yang dulu biasa saya lakukan.” Hal-hal kecil itu ’hanyalah’ kata-kata singkat semacam ”i miss u, i love u” dll.

Mereka bertemu setiap hari, akan tetapi lidah terasa kelu untuk mengucapkan cinta. Apakah berarti mereka sudah tidak saling mencintai? Bisa jadi mereka tetap mencintai. Apalagi yang namanya lelaki. Menurut hasil analisa tentang lelaki di Jepang mengatakan bahwa ketika seorang lelaki mengucapkan “aku cinta kamu”, “aku suka kamu”, “terima kasih”, maka dia sedang menyatakan kekalahannya di hadapan istrinya. Takluk! Padahal kekalahan adalah hal yang paling tidak disukai oleh makhluk ini. Karena itu kata-kata melankolis adalah kata-kata yang kadang dihindarinya.

Apakah solusinya?

Salah satu solusi (yang mungkin dpat dicoba) adalah saling memberi hadiah niscaya kalian saling mencinta. Dan hal ini ternyata ada juga dalam kebiasaan masyarakat Jepang. Ketika lidah terasa kelu mengucapkan cinta, salah satu cara solusinya adalah dengan memberikan hadiah kepada pasangannya. Mereka sibuk mencari hadiah apa yang paling cocok untuk mengganti kata-kata yang hilang dalam hidupnya. Telusurilah kata-kata dalam hidup anda, bisa jadi ada kata-kata indah yang dulu sering anda ucapkan, akan tetapi sekarang sulit anda ungkapkan. Siapa tahu hal itu bisa menjadi pengganti kata-kata indah yang hilang dahulu. Bagi anda yang sekarang berada dalam perjalanan, ingatlah suami/istri anda di rumah. Mampir ke toko kecil di airport atau terminal, pilihlah hadiah yang cocok untuk suami/istri tercinta anda, siapa tahu suatu saat kelak, anda dapat mengucapkan kata-kata indah itu kembali dengan penuh makna.

Selamat mencoba :)

Sebagian orang memilih untuk tidak memiliki keturunan ketika mereka menikah dengan pasangannya. Keputusan itu sering dinilai tidak wajar. Namun bagi mereka yang menjalaninya, hidup menjadi terasa lebih mudah.

Banyak latar belakang yang membuat seseorang tidak mau punya anak. Dewi Larasati (50) atau lebih akrab dipanggil Tike merasa tidak siap menjadi orangtua, sampai kapan pun. Bukan biaya yang dipikirkannya, perempuan yang berprofesi pengacara ini tidak tahan dengan kerewelan anak-anak. Ia juga tidak telaten mengurus dan mendidik anak.

”Anak adalah bentuk tanggung jawab kita terhadap kehidupan. Kalau kita tidak siap bertanggung jawab, untuk apa memiliki anak?” kata Tike. Sudah lebih dari 19 tahun sejak ia menikah dengan suaminya, Edmund Heng (54), Tike tidak pernah menyesali keputusannya untuk tidak memiliki anak.

Pengalaman masa kecil diakui Tike ikut memengaruhi keputusannya. Sejak kecil, Tike tinggal di luar negeri karena ibunya, Basundari Suyono, adalah diplomat yang bertugas di beberapa negara di Eropa. Setiap hari, Tike melihat ibunya sibuk luar biasa.

Di samping harus mengurus kelima anak bersama suaminya (Tike dan keempat saudaranya masing-masing hanya berselisih umur satu tahun), Basundari disibukkan dengan tugas-tugas kantor. Ibu Tike ini juga kerap menerima tamu sampai malam hari atau mengikuti perjalanan dinas ke luar negeri, ”Rasanya kok ribet banget mengurus anak,” kata Tike.

Subekti (59) atau Bekti, dosen di Universitas Tarumanegara, Jakarta Barat, punya alasan lain. Pria yang menghabiskan masa kecilnya di Salatiga, Jawa Tengah, itu lebih takut dengan emosinya sendiri bila ia punya anak. ”Saya dibesarkan oleh ibu yang pemarah dan ayah yang tidak dekat dengan anak-anaknya. Kalau saya punya anak, malah kasihan anak-anak saya,” kata Bekti yang yakin bahwa jika punya anak ia akan berperilaku seperti ayah atau ibunya.

Bekti mengaku pernah mengalami tekanan psikologis karena suasana rumahnya yang tidak nyaman. Ia menjadi sosok pendiam, namun menyimpan kemarahan yang mudah meledak. ”Saya bukan benci anak-anak. Tetapi saya tidak tahan kalau mereka rewel atau bertengkar, misalnya,” kata Bekti yang mengaku sudah tidak ingin punya anak sejak duduk di bangku SMA.

Selalu tidak ada alasan tunggal yang melatarbelakangi sebuah keputusan. Seperti diungkapkan Paulus Sapto Indratmo (38), biasa dipanggil Sapto, pekerja swasta di Jakarta yang sudah 10 tahun menikah dengan Lola Larasaki (35).

Sapto mengaku tidak mau punya anak karena tidak mau menambah populasi manusia yang sudah membengkak. Ia juga miris dengan banyaknya anak telantar di negeri ini. Alasan lain, di keluarga Sapto ada riwayat kanker. Ia khawatir riwayat itu bakal menurun ke anak-anaknya.

Komunikasi

Psikolog sosial dari Universitas Indonesia, Ratna Juwita, menilai, kecenderungan pasangan yang menikah tanpa anak adalah hal yang biasa di luar negeri. Namun di Indonesia, rata-rata pasangan yang menikah pasti berharap memiliki anak. Keinginan untuk punya anak itu masih kuat karena biasanya pasangan tidak bisa menghindar dari tuntutan sosial.

Namun, di belantara kehidupan kota besar yang sesak dan ruwet seperti Jakarta, orang menjadi lebih individualistis. Mereka tidak lagi berpikir tentang lingkungan sosial di sekitarnya sehingga bersikap lebih realistis. Seperti kata Bekti, ”Untuk bertahan hidup di Jakarta saja sudah sulit. Apalagi bila harus menanggung anak.”

Ratna menilai tidak ada salahnya bila pasangan tidak punya anak. ”Melalui proses berpikir, mereka menentukan sendiri hidup yang akan dijalaninya. Itu sesuatu yang positif, hanya saja harus dikomunikasikan dengan pasangan,” katanya.

Sebelum meminang Lucia, Bekti berterus terang kepada calon istrinya itu bahwa ia tidak ingin memiliki anak. Lucia yang tidak langsung setuju dengan keputusan Bekti lalu mencari masukan dari pamannya. Entah apa sebabnya, Bekti sendiri tidak tahu, akhirnya Lucia mau juga menikah dengan Bekti. Kini usia pernikahan mereka sudah memasuki rentang 31 tahun.

Sedangkan Tike tidak memberi tahu suaminya secara langsung kalau ia tidak ingin memiliki anak. Di depan Edmund, setiap pagi Tike rutin meminum pil antihamil. Juga jika hendak bepergian bersama sang suami, Tike tidak pernah lupa membawa pil antihamilnya. ”Dari situ suami tahu kalau saya tidak mau punya anak. Dia malah suka mengingatkan aku untuk minum pil,” katanya.

Bagi Tike maupun Bekti, keluarga mereka tidak ada yang menentang keputusan untuk tidak punya anak. Namun, pilihan itu tidak mudah bagi Sapto, terutama saat berhadapan dengan keluarga sang istri. ”Awalnya, keluarga istri keberatan dan mengimbau kami untuk punya anak. Tetapi saya dan istri tetap gigih tidak mau punya anak,” kata Sapto. Setelah empat tahun, akhirnya keluarga sang istri tidak lagi mengutak-atik keputusan mereka.

Bekti juga sempat jengkel karena orang sering bertanya tentang keputusannya untuk tidak memiliki anak. Ujung-ujungnya, Bekti kerap dinasihati. ”Kalau ada yang menasihati saya dengarkan saja, tetapi keputusan tetap di tangan saya. Ini hidup saya,” kata Bekti.

Bebas

Demikian juga dengan Tike. Baginya, kehidupan tanpa anak membuat hidup yang dijalaninya lebih ringan.

Selepas bekerja, perempuan yang berprofesi pengacara ini punya waktu luang untuk dirinya sendiri. Setiap akhir pekan ia pergi ke Cinere, Jakarta Selatan, untuk menengok kudanya. Di situ Tike juga berlatih naik kuda.

Kadang-kadang Tike juga mengendarai sepeda motor Harley Davidson miliknya dari apartemennya di Slipi, Jakarta Barat, ke kantornya di kawasan Sudirman. Kalau sedang libur panjang, dia dan Edmund pergi berkemah atau menyelam ke luar kota. Karena memiliki waktu untuk diri sendiri, Tike merasa hidupnya menjadi seimbang meski tinggal di kota Jakarta yang padat.

Bekti dan Lucia juga memiliki dua anjing agar rumah mereka menjadi lebih ramai. Setiap hari anjing itu diurus Lucia, sementara Bekti lebih sering mengajak anjing-anjingnya bermain.

Bagi Bekti, setiap hari rasanya seperti berbulan madu. Sepulang kerja, ia lebih banyak melewatkan hari dengan mengobrol dengan sang istri karena ia tidak punya televisi. Setiap akhir pekan, mereka berdua pergi ke gedung bioskop untuk nonton film.

Malam itu, Kamis (21/1), Bekti sedang menunggu dijemput Lucia. Ini malam istimewa. Mereka akan nonton film dan makan malam untuk merayakan ulang tahun perkawinan.

Tulisan di atas saya ambil dari Kompas, 25 Januari 2010.

Klo pasangan tidak memiliki keturunan karena takdir..itu lain masalah. Tapi kalau hal tersebut adalah hasil keputusan bersama mereka..??

Keputusan memang di tangan mereka..untung ruginya mereka yang tanggung. Cuma alasan mereka itu gak bisa saya cerna untuk bisa diterima akal saya.

Saya punya tetangga baru (depan rumah persis)..seorang bapak-bapak pensiunan (mungkin berumur 70-an). Di hari tuanya, istri udah gak ada..anak gak punya..saudara..? sepertinya gak juga. Tiap hari raya gak ada satupun sanak saudara yang sowan..seingat saya hanya sekali adeknya yg datang mengantar pindahan (adeknya pun udah sepuh). Dia hanya ditemani 2 orang penunggu rumah (suami istri)..yang setahu saya..sang suami kerja sebagai satpam..sedang sang istri yg bertugas menjaga rumah, pulang ke rumahnya sendiri. Alhasil..bapak pensiunan tadi sepanjang hari dihabiskan untuk bengong (krn mungkin sudah terkena penyakit tua) di depan rumah sambil sesekali memberi makan kucing. Saya seringkali merasa iba..tapi karena si bapak tadi sudah tidak bisa diajak berkomunikasi..jadi serba salah kan..?

Mereka..si pengambil keputusan di atas..sempat kepikir gak ya di hari tuanya bakal gimana..seandainya impian hari tua mereka gak bisa terwujud karena satu dan lain hal..??? Dan akhirnya akan kesepian seperti si bapak pensiunan tadi..??

Entah masih berlaku atau tidak pepatah jawa kuno “banyak anak banyak rejeki” hehehe. Lagipula..anak itu adalah investasi kita di masa tua. Memang bukan asuransi yang bakal menjamin kita untuk bisa bergantung seutuhnya ke anak (lagian siapa yang mau ngerepotin anak..?? semua orang tua gak ada yang mau kok). Investasi yang dimaksud lebih cenderung ke investasi akherat. Anak bisa meringankan dosa kedua orangtuanya kelak di alam kubur..bahkan bisa membawa kedua orang tuanya ke Surga atas ijin Allah SWT.

Gak ada ruginya punya anak.. Capek? Namanya juga usaha untuk mendapatkan yang jauuuuhhh lebih membahagiakan. Gak bakal kerasa capeknya asal kita..orang tuanya tulus ikhlas..agar sang anak juga tulus ikhlas membantu kedua orang tuanya kelak. Ameen.

Marah adalah luapan emosi atau memuncaknya rasa kesal pada diri seseorang ketika ada sesuatu yang tidak sejalan dengan keinginannya atau harapan-harapannya. Tak seorangpun di dunia ini yang lahir tanpa sifat marah. Hanya saja, di kemudian hari potensi marah ini berkembang, bisa ke arah positif atau negatif. Nah, potensi marah ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti lingkungan, pola didik dan pola asuh, pengalaman hidup, budaya, jenis kelamin dll.

Rasulullah SAW, sebagai pribadi yang paripurna, pernah marah. Tetapi, beliau HANYA marah ketika hak-hak Allah dilanggar. Inilah sebenarnya tujuan dari dianugrahkannya sifat marah kepada hamba-hamba Allah, yaitu, agar tegak kalimah Allah di muka bumi. Artinya kita sah-sah saja marah, selama alasannya benar. Anak tidak shalat misalnya, anak berbohong atau mengambil hak orang lain dsb. Bahkan diperbolehkan memukul anak apabila sudah berusia 10 tahun tetapi tidak mau sholat.

Tetapi kita terkadang marah untuk hal-hal yang tidak prinsip. Anak tidak mau mandilah, anak tidak gosok gigilah, anak tidak mau tidurlah, atau anak memecahkan barang, dll. Yang jika dikaji ulang, sebenarnya kemarahan kita berpangkal pada keegoisan kita sebagai orang tua. Kita memaksakan kehendak kita kepada mereka. Kita menuntut mereka melakukan apa yang kita mau.

Saya teringat seorang anak yang kira-kira baru berusia 2 tahun–yang saya temui ketika saya menemani anak saya mengikuti sebuah lomba di Mall–ketika ia meronta-ronta dalam dekapan ibunya. Kebetulan kami duduk bersebelahan. Awalnya ibu itu membentak-bentak anaknya supaya diam. Ketika bentakannya tidak jua dihiraukan si anak, mulailah sang ibu mengguncang-guncang bahu anaknya. Si anak membalas “menjambak rambut” ibunya. Sang ibu bertambah marah, kemudian mendekap anaknya sedemikian rupa, agar tidak bergerak. Sungguh tayangan yang menyedihkan.

Sesungguhnya, kemarahan tidak akan mengubah perilaku siapapun. Bisa jadi anak diam sesaat setelah dimarahi. Bisa jadi seseorang menjadi rajin setelah dimarahi tapi ini berlaku sesaat. Bisa jadi anak menjadi baik setelah dimarahi, tapi tidak menjadi sifat dasar.

Sesungguhnya, kemarahan kita tidak dapat mengubah perilaku siapapun. Untuk berubah, seseorang butuh tauladan, butuh kasih sayang, butuh kesabaran. Jika kita sering marah kepada anak kita, maka kita menularkan sifat marah kepada anak kita. Contohnya kasus diatas. Kemarahan sang Ibu tidak membuat anaknya menjadi lebih tenang, tetapi justru membuat anaknya juga marah kepada sang Ibu.

Untuk berkembang secara baik, entah itu mentalnya, perilakunya atau kecerdasannya, seorang anak memerlukan aura yang positif dari sekelilingnya. Dan itu tidak bisa terjadi jika Ibunya atau orang yang dekat dengannya adalah pribadi yang hobi marah.

Untuk tidak marah, sungguh pekerjaan yang sulit. Tetapi, ketika kita dapat mengendalikan kemarahan kita, sungguh sesuatu yang menyenangkan dan melegakan.

Saya pernah berada dalam kondisi yang demikian marah kepada anak saya. Dalam hati, saya benar-benar ingin mencubitnya atau bahkan memukulnya. Tapi saya berusaha sekuat hati menahannya. Saya tarik nafas dalam-dalam, kemudian saya beristighfar dan memohon agar Allah memberi saya kesabaran dalam menghadapi anak saya. Cukup lama, saya dalam pergulatan untuk menahan kemarahan saya. Akhirnya kemarahan saya perlahan-lahan lenyap. Dan saya merasa lebih bahagia.

Selalu ada alasan untuk marah. Berarti juga, selalu ada alasan untuk TIDAK marah. Atau paling tidak, bagaimana marah secara positif.

Inilah pentingnya menarik nafas sejenak, ketika kemarahan memuncak. Agar kita dapat berfikir ulang, perlukah kemarahan ini? Tepatkah? Harapannya, agar kita tidak marah kepada hal-hal yang tidak prinsip. Jujur, kita sering lebih marah ketika anak-anak main berlebihan ketimbang ketika mereka tidak shalat misalnya.

Ya..Allah berilah saya kemampuan untuk dapat membimbing dan memberi bekal kepada anak-anak di jalan yang Engkau ridhoi.. Ameen.

Suatu hari teman saya berulang tahun.

“Yuk, daripada kita ke club gak jelas, minum-minuman gak jelas, kita ke panti jompo saja. Bawa makan siang ke sana , kita makan sama mereka ?” Singkat cerita mereka ke suatu panti jompo dekat kota . Di sana , orang-orang tua terlihat sangat senang saat tau teman-teman saya mau menjenguk mereka. Mereka terlihat gembira, mereka cerita tak habis-habisnya. Mereka cerita tentang masa lalu mereka, latar belakang mereka, sejarah mereka bisa “nyangkut” di panti jompo.

Ada cerita dimana istri anaknya gak suka mertua mereka hidup bersama mereka,
jadi si anak terpaksa menitipkan orang tuanya di panti jompo.
Seorang kakek juga tinggal di sana setelah istrinya meninggal, dan dia tidak punya anak, keponakan-keponakan nya juga tidak ada yang mau menampung dia.

Ada cerita, tentang si kakek tua yang sudah susah payah menguliahkan anaknya di luar negri tapi dia tak kembali ke rumah orang tuanya, dia tak pernah mengunjungi ayahnya, bahkan mengirim uang sekalipun tak pernah. Teman-teman saya sangat terharu mendengar kisah mereka.

Pun dia sangat tercengang saat si kakek tua menasehatkan dia: “kalau sudah
beristri dan punya anak nanti, jangan memberi semua uang yang kita miliki ke
anak-anak kita. Kita juga harus simpan untuk diri sendiri, buat masa tua,
kalau anak-anak ternyata gak pinter sama kita.” katanya.

Sepanjang perjalanan pulang naik mobil, tak satupun yang berbicara.. “Hei aku hari ini ulang tahun. Koq malah pada bikin sedih gini?” “Ya, terharu banget. Aku jadi merasa bersalah deh. Bagaimanapun aku sering anggap orang tuaku gak penting.”

“Iya nih, kamu pake ngajak kita-kita ke panti jompo. Bikin kita feel guilty gini?”

Mungkin dari kisah si kakek tua tadi, kita geram dengan si anak nggak tau
diuntung itu.
Anak durhaka. Nggak pinter sama orangtua.

Tapi taukah kita, kenapa banyak anak-anak seperti itu? Apa benar mereka
nggak peduli dengan orang tua mereka?
Apa jangan-jangan kita sebagai orang tua gak peduli sama anak-anak kita?

Ada orang tua yang seharian sibuk kerja, anak bangun kita sudah gak ada di rumah, mereka menangis sampai lelah dan tertidur lagi. Ada juga yang gak peduli dengan sekolah mereka. Mereka gak pernah menanyakan, “Gimana sekolahnya hari ini? Diajarin apa
aja?”
Mereka taunya hanya bayar uang sekolah dan tanda tangan hasil ulangan.

Ambil raport?

Ah, biarin supir atau nenek aja, yang penting kan ada perwakilan.

Tahukah kita?

Waktu anak kita gak panjang.

Kita hanya memiliki 12 tahun bersama mereka.

Sisanya, mereka milik teman-teman mereka, pacar mereka, pekerjaan mereka,
istri/suami mereka, dan anak-anak mereka sendiri.
Mungkin saat ini kita bosan dengan tangisan mereka di malam hari. Kita bosan memonitor mereka yang baru belajar jalan. Jalan kesini, jalan kesitu, ambil barang ini, diletakkan disitu, buang barang seenaknya ke tong sampah, corat coret dokumen penting.

Sobek-sobek majalah di sofa. Lari ke tetangga, naik-naik tangga. Menelan benda gak jelas. Kita mungkin bingung karena punya si kecil.

Ada jadwal pengajian, bingung mau ninggalin anak sama siapa. Diajak teman ikut KKR dan seminar? “Wah.. Ntar si kecil siapa yang ngurus?” Jangankan seminar di luar kota , di dalam kota saja sudah kebingungan. Tiap hari minta dibacain dongeng yang itu-itu aja. Belum kalau ke swalayan, minta permen lah, bola lah, minta naik panda-pandaan di timezone.

Ikut-ikutan ambil barang, sampai dirumah, “Lah? Tadi perasaan gak ambil
barang ini di supermarket? Oalah? si kecil”

Bosen,nungguin mereka mengerjakan PR, Kalau gak ditungguin, pasti ngelamun, gambar-gambar mobil, robot, nyuri-nyuri pandang nonton TV. Bosen menyocokkan catatan mereka dengan catatan teman-teman yang lain. Bosen tanya-jawab dengan mereka sebelum ulangan. Bosen nyuruh mereka ngeluarin botol minum dari tas biar dicuci sama si bibi. Kalau bukan Anda yang mengeluarkan malamnya, pasti besok pagi buru-buru. Jemputan sudah datang, anak Anda belum siap.

Kapan mereka mau nurut?

Disuruh makan, nanti.

Disuruh mandi, nanti.

Disuruh matikan TV dan tidur, “sebentar lagi ma!”

Disuruh ngejadwal malam hari, “besok pagi aja ma!”
Dikasih tau jangan makan chiki nanti batuk, eh tetep saja jajan chiki di
sekolah.

Kalau sudah batuk, mau gak mau Anda bawa ke dokter dan beli obat.

Minimal 100.000 habis.

Padahal chiki cuman 2000.

Belum kalau sampai radang, Anda sendiri harus jaga dia di rumah.

Mungkin kita semua sedang menjalani hal-hal ini.

Kita bosan.

Pengen rasanya anak cepat besar, bisa bantuin jaga toko, bisa ditinggal sendiri di rumah. Bisa antarkan makanan ke rumah tetangga, bisa naik kendaraan sendiri, gak perlu diantar-jemput lagi.

Tapi sadarkah kita?
Kita kelak akan merindukan saat-saat mereka masih kecil. Saat orang-orang di
pesta undangan mengatakan, “ih..lucu banget anaknya…”

Saat Anda lelah dan menyuruh mereka menginjak-injak punggung Anda.

Saat mereka tampil di drama sekolah dan dengan bangga Anda berkata, “Eh,
yang jadi Abdullah itu anak saya.”

Saat mereka mengenakan busana daerah di Hari Kartini.

Saat mereka nangis di tengah malam karena si kecil haus dan meminta di
buatin susu oleh Ibu / Ayahnya.

Saat mertua Anda teralu memanjakan si kecil, sampai Anda jengkel sendiri
dengan cara mereka mendidik anak Anda.

Anda akan merindukan itu semua.

Hanya 12 tahun!

Sisanya mereka milik orang lain.

12 tahun bahkan nggak lebih dari 1/5 hidup mereka.

Nikmati semua ini.

Beri perhatian yang luas terhadap mereka.

Tentunya kita juga harus memberi teladan kepada mereka.

Mereka akan merekam semua perbuatan kita.

Cara-cara kita berbicara dengan orang tua kita yang sudah mulai pikun, cara
kita mengurus orang tua kita di rumah.

Cara kita mengajak orang tua kita check up di lab.

Mereka juga merekam cara kita meneriakan ucapan kita ke orang tua kita yang
mulai kurang pendengarannya, cara kita bersungut-sungut di belakang orang
tua kita yang jadi cerewet luar biasa setelah sembuh dari stroke.

Cara kita berkata: “Iya Maaaaaaaaaaaa?” (dengan nada yang, ah tentu saja
Anda sendiri tau bagaimana biasanya kita mengucapkan kalimat ini saat
berusaha menahan kekesalan kita!)

Kita gak tahu kelak, apakah anak-anak kita akan pinter dengan kita atau
nggak.

Memang, tentu kita selalu mendoakan dia supaya jadi orang, bukan jadi anak
durhaka.

Yang bisa kita lakukan sekarang adalah dengan tidak menjadi orang tua yang
durhaka.

Dan tentu saja dengan memberi teladan kepada mereka,bagaimana caranya
memperlakukan orang tua.

Dengan mempraktekkannya kepada orang tua kita sendiri!

Yang pasti, hukum tabur tuai juga berlaku di area ini!

“Emangnya tahun 2012 dunia bakal hancur ya Ma..? Semoga Allah lagi lupa..jadinya 2012 gak jadi kiamat ya..” Kata keponakan sy yang berumur 8 tahun setelah melihat cuplikan film 2012 di TV. Dipikir2 memang gak mendidik yaa film 2012. Mungkin klo untuk qta yang sudah paham betul perkara kiamat..akan menganggap enteng film tersebut.. tetapi gimana klo anak kecil yang nonton? Orang tua dituntut memberikan pengertian agar si anak tidak merasa resah. Bukan hanya anak kecil..bahkan akhir-akhir ini keresahan tsb juga terjadi di tengah2 qta. Mungkin ini salah satu alasan..kenapa MUI sempat melarang peredaran film tsb.

Mungkin bagi Indonesia isu ini tampaknya menjadi sangat sensitif karena qta telah merasakan bencana besar secara beruntun dalam lima tahun terakhir. ’Kiamat’ demi ’kiamat’ terjadi secara beruntun di beberapa wilayah di tanah air, masing-masing menelan korban yang sangat besar. Mulai dari gempa dan tsunami di Aceh pada akhir 2004, lalu gempa bumi di Sumatera Barat baru-baru ini, serta berbagai bencana yang terjadi di antara keduanya (gempa di Yogyakarta, lumpur panas Lapindo di Porong, gempa Tasikmalaya; terlalu banyak untuk disebutkan semuanya di sini).

Apakah bencana-bencana itu telah memberi apocalyptic sense (kepekaan terhadap bencana besar) yang lebih bagi masyarakat Indonesia? Tidakkah semua bencana itu merupakan pertanda? Mungkin demikian banyak orang di tanah air bertanya-tanya. Tidakkah semua ini mengisyaratkan akan datangnya bencana yang lebih besar, bahkan mungkin saja kiamat (doomsday)? Kini dengan adanya film 2012, kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya bencana dahsyat menjadi lebih besar lagi. Isu ini tampaknya sangat mengganggu sensitifitas masyarakat.

Tapi benarkah kiamat akan terjadi pada akhir tahun 2012? Darimana ide ini muncul? Mengapa harus tahun 2012? Sekarang ini kita sudah tahu bahwa semua ini bersumber dari penafsiran terhadap kalender Maya. Kalender ini dibuat oleh peradaban Maya kuno yang mendiami wilayah Meksiko beberapa abad lalu, sebelum peradaban mereka dihancurkan oleh para pendatang Spanyol.

Para pendeta dan ahli astronomi Maya telah menyusun kalender yang berbeda dengan kalender yang kita gunakan sekarang. Mereka menggunakan siklus 13 hari dan 20 hari untuk menandai hari-hari mereka (mungkin ini setara dengan satu minggu atau satu bulan bagi kita). Mereka juga mengenal dua macam siklus tahunan yang masing-masing lamanya 260 dan 365 hari. 

Berdasarkan siklus tahunan 356 hari, mereka membuat suatu kalender yang panjangnya 52 tahun (Calendar Round), atau kira-kira setara dengan satu generasi. Tentu saja siklus ini terlalu pendek untuk menandai peristiwa sejarah yang terjadi lintas generasi. Namun, orang-orang Maya memiliki satu kalender lainnya (Long Count) yang mencakup masa 5126 tahun. Masalahnya adalah apa yang akan terjadi sekiranya hitungan kalender ini berakhir? Apakah akan berlaku hal-hal yang buruk, seperti bencana dahsyat yang akan menghancurkan peradaban manusia, atau hal itu hanya akan menghantarkan manusia memasuki siklus waktu yang baru, dengan kata lain memulai kalendernya dari awal lagi? 

Para ahli menghitung bahwa permulaan kalender Maya (Long Count) bersamaan dengan tanggal 11 Agustus 3114 sebelum masehi. Siklus kalender Maya tersebut akan berakhir 5126 tahun kemudian, atau tepatnya tanggal 21 Desember 2012. Lalu apa yang terjadi setelah tanggal tersebut? Apakah dunia akan berakhir (kiamat) bersamaan dengan berakhirnya kalender Maya? Ataukah akan terjadi sesuatu yang buruk dan bencana yang luar biasa bersamaan dengan berakhirnya siklus kalender tersebut? Bukankah rentang waktu 5126 tahun merupakan masa yang sangat panjang; tidakkah akan terjadi suatu yang istimewa pada akhir siklus tersebut?

Dari sinilah bermulanya penafsiran tentang hari kiamat atau bencana besar-besaran pada tanggal 21 Desember 2012. Tapi apakah orang-orang Maya sendiri mempercayai penafsiran tersebut? Apakah menurut mereka dunia akan berakhir bersamaan dengan berakhirnya siklus kalender mereka? Tampaknya sebagian besar orang-orang keturunan Maya yang ada sekarang tidak terlalu ambil pusing dengan persoalan yang ditimbulkan oleh kalendernya (khususnya melalui penafsiran Hollywood) terhadap masyarakat dunia lainnya. Dan mereka yang mengetahui tentang siklus ini tidak menganggap akan terjadi kiamat di akhir 2012. Mereka mempercayai akan terjadinya perubahan penting di akhir siklus tersebut. Setiap siklus akan berganti dengan siklus yang baru, dan mereka cenderung melihatnya sebagai akan bermulanya sesuatu yang positif, sesuatu yang lebih baik bagi peradaban.

Roland Emmerich, sutradara film 2012, tidak menganggap dunia benar-benar akan kiamat atau mengalami bencana maha dahsyat pada tahun 2012 seperti yang diprediksi oleh filmnya. Ia hanya ingin membuat sebuah film tentang bencana hebat, seperti film-film yang pernah dibuat sebelumnya, Independence Day dan The Day After Tomorrow. Yang jelas ia telah mendapatkan keuntungan yang besar seperti pada film-film lainnya..karena begitu banyaknya orang yang penasaran perihal kiamat 2012.

Dalam Islam sendiri persoalannya sangat jelas. Tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat kecuali Allah.

Jadi pada saat terjadinya kiamat manusia tidak akan sempat berkirim sms, menelpon, mendengarkan berita TV tentang guncangan yang sedang terjadi. Dan tidak ada manusia yang bisa melarikan diri darinya.

Wallahu a’lam, hanya Allah yang mengetahui kapan akan terjadinya kiamat. Mungkin terjadi pada tahun 2012, sebagaimana juga mungkin terjadi pada tahun 2010, 2013, 2021, atau 2133. Kiamat bisa datang kapan saja, qta tidak bisa mengetahuinya secara pasti.

Akhir-akhir ini sy menjadi tempat curhatan teman2 deket sy perihal selingkuh. Dia menceritakan secara detail dari awal pertemuan sampai akhirnya sekarang mereka berpasangan bak sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Anehnya lagi..sampai dengan saat ini, sudah ada 3 orang teman sy yang menceritakan kisah rahasia mereka ke sy. Sy gak tahu persis alasan mereka untuk bercurhat ke sy..mungkin krn sy dianggap teman dekat mereka (betul jg..krn salah satunya sdh berteman dgn sy dari SD..!) atau sy dianggap dapat menjaga rahasia wlpn sy akrab jg dengan pasangan masing-masing. Tp yg jelas..bkn krn sy jago selingkuh sehingga mereka berani curhat ke sy (hehe..Insya4JJi tahan gempur dech).

Dalam kasus ke-3 teman saya itu..kesemuanya jauh dari pasangan. Entah ada hubungannya atau enggak..bahwa jarak mempengaruhi hubungan. Sedangkan sy tahu pasti..ke-3 teman sy itu..kesemuanya adalah manusia berkualitas baik yg tidak bermental selingkuh. Mungkiinnn…krn mereka berjauhan dari pasangan..sehingga tidak banyak hal yang bisa dilakukan after office hours..so, yg awalnya cuman hanging out bareng sekedar menghabiskan waktu dengan ngobrol..lama-kelamaan jadi temen curhat yg cocok..dst..dst..

Kebetulan lingkungan sy bekerja dikeliling pria, seringkali cerita-cerita mereka membuat sy terkaget kaget. Mereka menceritakan betapa indahnya perselingkuhan yang dilakukannya, semakin kita responsif menolak semakin pula dia bersemangat melakukan pembenaran. Betapa tidak, selingkuh itu gak perlu modal, tidak perlu ikatan, asal sama sama mau maka terjadilah.

Seperti mencuri mangga tetangga terasa lebih nikmat daripada membeli sendiri, begitu barangkali perumpamaannya. Ada rasa takut ketahuan tetapi nikmat, menaikkan adrenalin dalam tubuh, merasa diperhatikan, ada rasa takut kehilangan meski telah mempunyai pasangan resmi di rumah. Aneh? Tidak juga. Apakah ini fenomena sosial yang terjadi akhir-akhir ini?

Selingkuh tidak hanya terjadi di kota besar, bukan monopoli orang di perkotaan saja. Mbak Narti dan Kang Marjo juga bisa selingkuh, Cuma saja jika di desa hal ini mudah ketahuan, karena kontrol sosial masyarakat desa masih lebih kuat dibandingkan perkotaan, oleh karena itu akan menjadi berita heboh dan hukumannya, pengucilan dari pergaulan masyarakat juga lebih pedih.

Kontrol sosial memang sangat diperlukan…! Yang lebih mengherankan..di lantai tempat sy berkerja (baca : Lantai..bukan : kantor)..antar sesama penghuni lantaipun mereka cuek selingkuh (minimal sdh ada 2 kejadian yg ter-endus). Karena kurangnya kontrol tadi..masing-masing individu terlalu cuek..”takut dianggap mencampuri urusan orang” (termasuk sy ya..? :p)

Siapa mengira ketika janji hidup bersama diucapkan, saat kedua pasang mata berpandangan mesra, kelak selingkuh akan menghinggapi pernikahan. Selingkuh boleh didefinisikan secara ngawur sebagai melakukan dua kegiatan secara bersamaan. Sy sedang berselingkuh dengan pekerjaan ketika meminimize Farmville di sudut kompi misalnya. Kalau selingkuh yang sy maksud dalam artikel ini jelas sudah, melakukan hubungan mesra dengan seseorang, ketika masih memiliki pasangan resmi, jangan artikan hubungan mesra hanya karena sex saja.

Kadang perselingkuhan berawal karena faktor kedekatan, perhatian yang entah mengapa kini tak hadir dalam kehidupan pernikahan. Sebagai contoh saja, dalam perjalanan naik KRL yang padat dari JABODETABEK, setiap pagi mereka bertemu di gerbong kereta selama bertahun tahun. Bangku selalu tersedia untuk rekan seperjalanan, bercanda, bercerita tentang segala, demikian selama bertahun tahun, sama dekatnya perasaan hati dengan pasangan di rumah, paralel. Apalagi saat berangkat kerja, mmmhh…. rapi dan wangi. Wah membaca artikel ini barangkali saya akan ditimpuk oleh komuter di Jakarta bila bertemu di gerbong KRL AC di pagi hari.

Atau pergaulan di luar rumah, misal di tempat kerja, lagi lagi di sela pekerjaan, ataupun di mana saja. Apalagi dengan adanya teknologi komunikasi yang kian canggih. Dari sekedar perkenalan di dunia maya, merasa cocok dalam bertegur sapa, diteruskan dengan saling menukar alamat, kemudian bertukar nomor telp. Dan lanjuuuut copy darat.

Merasa lucu saja mendengarkan celoteh ibu-ibu saat arisan di komplek, mereka melarang para suami untuk mengajak rekan kerja semobil..karena jika hanya ada dua orang maka yang ketiga pastilah setan yang menemani..demikian katanya. Lha kalau memang ada niat apa sih yang gak mungkin? Apalagi kalau memang dasarnya thukmis, gak tahan lihat bathuk klimis.. :)

Adalah hal yang manusiawi jika pasangan yang kita miliki tidak sesempurna yang kita inginkan..sudah baik..bertanggung jawab..sayang keluarga, eeh sayang …. kurang ganteng atau tidak secantik Winonna Ryder misalnya. Atau sudah memenuhi 75% kriteria tetapi kok kurang perhatian, yang didahulukan selalu urusan pekerjaan..seperti yang sering diprotes oleh pasangan. ”Bisa gak sih kalau di rumah jangan bicara soal pekerjaan?” Kemana kekurangan yang 25% itu dicari? Hal ini kadang kadang dapat ditemukan di luar. Sama-sama kekurangan 25%, ketemu, kloplah sudah.

Andai saja menyadari kekurangan itu dan berusaha untuk mencukupinya barangkali perselingkuhan tidak terjadi. Kadang pasangan terlalu malas untuk mengevaluasi hubungan yang telah berlangsung lama, dianggapnya semua running well, aman terkendali. Monoton, barangkali adalah kata yang tepat, memicu kejenuhan, selalu bermain dengan ”irama keroncong” sementara ”musik bossas”, ”jazz” di luar lebih menggairahkan. Nah mengapa tidak memainkan jenis musik seperti ini di rumah sendiri? Sehingga tidak perlu mencari di luar?

Menjadi seorang wanita memang kadang tidak mudah, terlalu banyak tuntutan, kadang dituntut berperan seperti domba yang lembut di rumah tetapi menjadi seganas macan di tempat tidur, cape deh. Kadang meskipun sudah sedemikian rupa ada juga yang pasangannya tetap selingkuh. Lebih cape lagi..Naudzubillahmindalik..

Dalam menghadapi pasangan yang berselingkuh kadang seorang wanita sudah pasrah karena sudah tidak bisa berbuat apa apa, dan mengatakan, yang penting tidak dinikah saja. Perlu berpikir jernih dan berupaya agar sang belahan jiwa tidak membelah jiwanya dengan yang lain, meski seumpama menggenggam sebutir telur ayam, barangkali telur tersebut sudah matang karena panasnya hati. Berupaya mengembalikan apa yang telah dimilikinya, meski setelah sang belahan jiwa kembali rasa was was tetap menghinggapi. Was was yang tak berujung. Jika sudah demikian alih alih tujuan tercapai, yang ada malah sang belahan jiwa semakin terbang jauh dari sangkarnya.

Sebuah hati bagaikan ruangan..bisa dibuat sempit dan bisa juga seluas lapangan bola..tinggal bagaimana kita mengaturnya. Boleh saja seorang pasangan memiliki seluruh tubuh dan perhatian pasangannya, tetapi siapa yang bisa menghalangi bila di dalam kamar hati yang luas itu disembunyikan sebuah bilik istimewa tempat menyimpan perhatian dari sang selingkuhan bukan?

Sebuah perselingkuhan tidak selalu disebabkan karena sex, tetapi suatu kebutuhan yang tidak ditemui dari pasangannya. Selingkuh hati… Ini jauh lebih berat karena perasaan sehati, sama sama merasa membutuhkan, jiwa terasa menjadi lebih indah bernyanyi karena ada orang lain yang memperhatikan, merasa kehilangan bila tak menyapa. Adanya suatu kebutuhan, keharusan untuk menyampaikan apapun yang dirasakan, karena pasangan sudah tidak punya waktu untuk mendengarkan lagi. Atau adanya suatu perasaan kecewa.. rasa kecewa tidak menyukai sesuatu dari pasangan, tetapi tidak berani dan tidak berdaya karena superioritas pasangan.

Selingkuh jelas memerlukan kontribusi dari kedua belah pihak. Berawal dari ketidak puasan, perasaan tak berdaya menghadapi pasangan, adanya kesempatan dan bertemunya dua kutub magnet hati. Bukan hanya pria saja yang memegang kendali, tetapi wanita juga memberi peluang untuk berselingkuh.

Di kota besar dimana kontrol sosial hampir tidak ada, maka probabilitasnya menjadi besar. Apalagi suasana yang memungkinkan, selingkuh seperti sebuah oasis di tengah kegalauan hati, sepi di tengah keramaian. Tak jarang terbawa mimpi saat berhubungan intim dengan pasangan, pikiran melayang membayangkan kekasih hati.

Tidak dapat dipungkiri selingkuh memang indah bagi yang merasakannya, memiliki hati yang bercabang, ada rasa harap harap cemas, membuat gairah meledak di dada. Merasa muda kembali, serasa memiliki kekasih baru. Tetapi coba tanyakan kepada yang berselingkuh, maukah mereka mengorbankan keluarga untuk selingkuhannya? No way, tak seorangpun!! Jarang sekali mereka mau melepas keluarga yang telah dimilikinya dan menukarnya dengan selingkuhan. Terlalu lelah untuk memulai dari awal. Lagi pula tidak ada rasa greng lagi, bukankah yang ingin dirasakan adalah ”mangga curian?”, apa enaknya bila sudah terhidang dengan mudah, karena rasa mencurinya itu yang nikmat. Barangkali hubungan yang absurd itu yang dicari, mencari pelengkap, tapi jangan berharap lebih.

Selingkuh seolah ringan dibicarakan, padahal sedemikian berat dampak yang mungkin timbul (baik di dunia maupun di akherat).

Berselingkuh? Apa yang kau cari?

“ Ayah, kenapa kita kalau Lebaran Haji harus potong Kambing?” anak ke 3 ku Zidan bertanya, saat kami sedang mengantar kambing untuk Qurban
ke masjid.
“ Karena itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat Islam, untuk melaksanakannya sayang “ ujarku sambil memegang tali tambatan kambing.
“ Kenapa menjadi kewajiban ayah, kan kasihan kambingnya jadi pada mati dipotong lehernya….. iiiiih Zidan ngeri melihatnya!” lanjutnya sambil meringis.

“ Lho kan Zidan sudah pernah bilang, kalau Guru TPA pernah bercerita kita harus mengikuti perintah Allah seperti yang dilakukan oleh Nabi
Ibrahim saat harus menyembelih anaknya Nabi Ismail”, kataku berusaha menghilangkan kengeriannya.
“ O iya ya, Zidan lupa cerita tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Karena Nabi Ibrahim mengikuti perintah Allah, lalu Nabi Ismail diubah
menjadi gibas. Gibas itu sama dengan kambing ya Yah?” ketakutannya sudah mulai sirna dari wajah lugunya.
“ Ya gibas itu kalau di Indonesia sama dengan domba. atau kambing” aku berusaha menjelaskan pada dia, agar kengeriannya terhapus dengan kisah
para NabiAllah.
“ Terus dagingnya untuk apa Yah ? Sebegitu banyak kambing yang dipotong, malahan itu Zidan lihat ada sapinya juga.” katanya kembali bersemangat.
“ Nanti setelah di potong, daging hewan qurban itu di bagikan pada orang yang membutuhkannya. Zidan lihat kan, kalau disekeliling komplek
kita masih banyak yang kurang mampu. Kepada mereka itulah daging qurban diberikan.” sambutku.

“ Iya ya Yah, banyak sekali orang yang nggak mampu punya rumah, sampai-sampai rumah kontrakan milik ayah yang di pinggir komplek itu
nggak pernah kosong.” lanjutnya, aku menganggukkan kepala menyetujui ucapannya.
“ Zidan jadi ingat sama si Ujang deh Yah” katanya kemudian dengan wajah sedikit sedih.

Memang begitulah mimik anak-anak, gampang berubah dalam beberapa saat, takut, gembira, kemudian sedih lalu gembira lagi. Tapi kali ini ada
yang lain dari ucapan terakhirnya itu. Wajahnya cukup lama muram, tampak belum bisa melupakan hal yang ada di benaknya. Aku jadi ingin
mengetahui apa yang sedang dipikirkannya.
“ Ngomong-ngomong Ujang yang mana ya? Lalu kenapa Zidan kelihatan sedih ? kataku berusaha mengorek keterangan darinya.
“ Masak Ayah lupa sama Ujang. Dulu kan dia sama Emaknya pernah tinggal di rumah kontrakan Ayah.” ujarnya berusaha mengingatkanku.

Aku berusaha mengingat kembali siapa saja yang pernah menyewa kontrakan milik kami. Aku teringat memang dulu ada seorang janda yang
tinggal bersama seorang anak laki-laki sebaya dengan anakku Zidan. Tapi seingatku mereka tinggal tidak terlalu lama, kurang lebih hanya
sembilan bulan.. Dengan terpaksa aku tidak mengijinkan mereka tinggal lebih lama di kontrakan setelah aku mengetahui pekerjaan Emaknya. Dari
banyak orang kudengar si Emak bekerja di warung remang-remang sekitar pangkalan truk. Karenanyalah
anak laki-lakinya lebih sering bermain dengan anakku saat dia “dinas” siang ataupun malam hari. Karena kebetulan kontrakan tersebut terletak
tidak terlalu jauh dari rumah kami di belakang komplek. Aku tidak ingin kontrakkan milik kami dihuni oleh pekerja yang mencari nafkah di
tempat-tempat seperti itu. Lagi pula sebagai pengurus DKM masjid di komplek, aku tidak mau memberikan citra buruk pada para jamaah.

“ Ayah sudah ingatkan ?” seakan dia sudah tahu kalau aku kembali ingat pada si Ujang. Aku menganggukan kepala.
“ Tinggal di mana si Ujang sekarang ya Yah ? Kasihan Ujang sama Emaknya tidak punya rumah, dia pasti kedinginan musim hujan ini ya Yah
? Kenapa sih dulu dia pindah dari kontrakan Yah ? Memang Ayah ya yang menyuruh mereka pindah ?” pertanyaannya bertubi-tubi menghampiriku.

“ Zidan tahu, kalau Allah tidak suka pada orang yang mendapatkan uang dari pekerjaan yang tidak halal. Apalagi pekerjaan itu sampai merugikan
orang lain dan sangat dibenci oleh Allah” kataku berusaha menerangkan yang sesungguhnya dengan cara yang lembut. Dia mengangguk.

“ Zidan juga tahukan kalau ada orang jahat, kita tidak boleh berteman dengannya ?” lanjutku sambil menatap wajahnya.
“ Tapi Ujang sangat baik Yah. Dia yang mengajari Zidan membuat perahu dari batang pisang, lalu membuat layarnya dari plastik bekas. Ujang
juga dulu belajar ngaji di TPA sama Zidan lho Yah. Suaranya bagus kalau sedang belajar Adzan. Terus banyak sekali doa-doa yang Ujang
hapal. Oh iya, Dia malah yang membela Zidan waktu Angga yang nakal itu mau mengambil perahu buatan Zidan. Untung tenaga Ujang kuat,
sampai-sampai Angga takut melawannya. Pokoknya Ujang baik deh Yah, nggak pernah jahat sama siapapun, apalagi sama Zidan.” ujarnya
beruntun, tidak menyetujui ucapanku.

Aku jadi tidak enak hati menghadapinya. Anakku belum mengerti bila yang kumaksud adalah Emaknya, bukan anaknya. Sulit bagiku untuk
menerangkan hal yang satu ini, hal yang belum pantas didengar oleh anak seumur anakku. Aku kembali teringat saat Mak Enoh panggilan janda
beranak satu itu, menghiba meminta perpanjangan kontrak rumah, dengan alasan saat itu dia tidak mempunyai uang cukup untuk mencari rumah
kontrakan lain. Selain itu mereka hidup jauh dari sanak saudaranya setelah ditinggal mati sang suami, ayah dari Ujang. Demi menjaga “nama
baik” dengan terpaksa aku menolak, walaupun saat itu aku tahu kalau sangatlah sulit mencari rumah kontrakan semurah milik kami, yang
memang mematok harga di bawah harga pasaran, serta pembayaran dengan cara cicilan. Ah… kenapa aku jadi memikirkan hal yang sudah cukup
lama berlalu itu ?
Apa karena tiba-tiba anakku menanyakan peristiwa itu kembali ?
“ Kira-kira Ujang dapat bagian daging Qurban juga nggak ya Yah ?” pertanyaannya mengagetkan lamunanku.
“kan dia termasuk orang tidak mampu juga!”
Aku cuma bisa menganggukkan kepala. “ Tapi kalau dia sudah tidak tinggal di sini lagi, siapa yang mau
antarkan daging Qurbannya Yah ?” tampaknya dia belum puas dengan anggukan kepalaku.
“ Mudah-mudahan di tempat tinggalnya yang baru, Ujang juga dapat daging Qurban” kelu lidahku menjawabnya, sementara anak laki-lakiku
kini terdiam tanpa merespon jawabanku. Aku merasa berdosa terhadap anak yatim itu. Kenapa anak sekecil Ujang
sudah mendapat imbas dari persoalan orang dewasa. Memori di otakku terputar kembali saat melihat mereka mengemasi barang-barang yang
tidak seberapa itu keluar dari kontrakan kami. Sempat kulihat raut bingung dan sedih di wajah “sahabat” anakku. Saat itu keputusanku
sudah bulat, pun ketika istriku menyarankan agar aku memberi tenggang waktu beberapa minggu kepada mereka. Lagi pula menurut istriku, Mak
Enoh terpaksa bekerja di warung tersebut karena kebutuhan ekonomi. Demi menghidupi Ujang anaknya, dia rela
“mengorbankan” rasa malunya bekerja sebagai tukang masak di tempat “rawan” tersebut. Memang menurut beberapa tetangganya, yang juga
mengontrak rumah kami di sebelahnya, masakan Mak Enoh cukup enak.

Tapi aku tak mudah percaya begitu saja, aku lebih percaya pada omongan warga komplek yang sering melihat Mak Enoh pulang malam. Warung apa
yang buka hingga larut malam ? pikirku penuh kecurigaan. Memang beberapa minggu sebelumnya, janda itu sempat meminta ijin padaku untuk membuka warung makanan di depan kontrakan kami yang disewanya. Aku menolak, karena sebelumnya kami juga melarang salah seorang penyewa
membuka kios kecil di kontrakan kami. Pikirku, tidak adil bila aku memberikan perlakuan yang berbeda, lagi pula dengan adanya warung atau
kios, akan merusak keindahan dan kebersihan lingkungan sekitar kontrakan. Apalagi kalau sampai merusak bentuk bangunan yang sudah aku
dirikan dengan susah payah itu, tentu saja aku menolak.

Tapi kini ingatan itu justeru menyerang batin-ku. Kenapa begitu mudahnya dulu aku men”judge” seseorang dengan mengorbankan nurani,
hanya karena pendapat dari beberapa warga. Betapa mudahnya aku menghukum tanpa mempertimbangkan rasa “keadilan” untuk anak sekecil
Ujang. Untuk apa aku ber-Qurban kambing setiap tahun, bila untuk ber-empati saja aku tidak mampu. Bahkan Zidan anakku lebih mampu
merasakan apa yang dirasakan sahabatnya.

Tak terasa air bening menggenang di ujung mataku. Bila saja dulu aku mengijinkan Mak Enoh membuka warung, tentu hidup mereka akan lebih
baik. Anak yatim itu bisa terus bermain dengan anak kami, mengajari membuat perahu dengan kecekatan tangannya. Kini, tak kuat aku menahan
letupan sejuta rasa bersalah yang menghujam dada. Aku peluk anakku yang masih terdiam.

Penyesalan itu datang begitu terlambat. Apa jadinya bila Ujang dan Emaknya kini benar-benar terlunta-lunta, kedinginan menghadapi hujan,
kegelapan menghadapi malam, kelaparan menghadapi hari-hari ke depan. Siapa yang akan mengantarkan daging Qurban pada mereka ?
Ya Allah, biarkan kini aku memohon padaMu, semoga Mak Enoh dan Ujang tidak terlunta-lunta seperti dugaanku, semoga mereka bisa bertemu
“malaikat” penolong yang mempunyai nurani tidak seperti aku, yang “buta” oleh “keadilan dunia” yang semu.

Ampuni hambaMu yang hina ini ya Allah, yang tak pantas menyentuh syurgaMu, karena terlalu kaku tangan ini untuk menyentuh kepala anak
yatim karena tak sanggup mempersembahkan “Qurban Sesungguhnya” dalam kehidupan.

(Antara Cikini – Bojong Depok Baru 05 12 07)

dipersembahkan untuk alm. M. Yusuf (Ucup) yang wafat Senin, 3 Desember 2007
dalam usia relatif sangat muda – 13 tahun.
Apakah akan bertambah Ucup-Ucup yang lain karena ketidak-pedulian kita ?

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.